Dalam pandangan mana kau tatap ketulusan?
Sang surya mulai tenggelam,
Namun binarmu tetap menyilaukan.
Seteguk yang masuk hangat hati
Tidak berlebih tidak kekurangan.
Walau kamu adalah dua sisi,
Aku sudah melihat keduanya.
Bukankah kakimu juga berat pergi?
Karena perjumpaan yang masih bagai kemarin.
Seperti halnya cahaya kerlip yang nampak.
Melihat dari pundak sampingmu
Aku berpikir, bagaimana bisa?
Aku menyerah pada sebuah ketulusan
Yang telah datang untukku.
Walau suara lonceng memeka telinga
Suaramu mampu meredam keruh
Di antara pendatang yang semu
Kamu hadir jadi penetap
Aku disini, biarkan
Jangan kau merasa berat,
karena aku disini,
seperti kamu berada
Berada untukku
Juga menetap di hatimu
Created by: Ismi
Inspired Bukti
Sang surya mulai tenggelam,
Namun binarmu tetap menyilaukan.
Seteguk yang masuk hangat hati
Tidak berlebih tidak kekurangan.
Walau kamu adalah dua sisi,
Aku sudah melihat keduanya.
Bukankah kakimu juga berat pergi?
Karena perjumpaan yang masih bagai kemarin.
Seperti halnya cahaya kerlip yang nampak.
Melihat dari pundak sampingmu
Aku berpikir, bagaimana bisa?
Aku menyerah pada sebuah ketulusan
Yang telah datang untukku.
Walau suara lonceng memeka telinga
Suaramu mampu meredam keruh
Di antara pendatang yang semu
Kamu hadir jadi penetap
Aku disini, biarkan
Jangan kau merasa berat,
karena aku disini,
seperti kamu berada
Berada untukku
Juga menetap di hatimu
Created by: Ismi
Inspired Bukti
Komentar
Posting Komentar